A. Identitas Buku
Judul buku : Menolak Tunduk
Nama pengarang : Rudi Gunawan
Nama kota dan penerbit : Jakarta, PT Gramedia widisarana Indonesia
Tahun terbit dan jumlah halaman : 1999, XVI + 160 halaman
Nama pengarang : Rudi Gunawan
Nama kota dan penerbit : Jakarta, PT Gramedia widisarana Indonesia
Tahun terbit dan jumlah halaman : 1999, XVI + 160 halaman
B. Kelebihan
Buku ini memiliki kelebihan yang
begitu menarik karena buku ini dapat membawa sang pembaca seakan-akan mengalami
kejadian yang sama dengan buku ini dan buku ini mempunyai judul yang sangat
menarik sehingga dengan melihat judulnya saja orang-orang akan tertarik untuk
membacanya, tidak hanya sampai di situ sampul buku ini pun terlihat begitu
eksklusif dengan perpaduan warnanya sehingga merangsang seseorang untuk
memiliki buku ini. Selain memiliki judul yang menarik dan sampul yang kreatif,
isi daripada buku ini juga mudah untuk dipahami di semua kalangan, baik itu
kalangan pelajar, pemuda, mahasiswa, maupun dikalangan masyarakat karena buku
ini memang diperuntukkan kepada masyarakat-masyarakat awam dan juga di dalam
buku ini terdapat puisi-puisi penggugah semangat yang dimana puisi-puisi ini
dibuat oleh seseorang yang diceritakan oleh pengarang serta di dalam buku ini
terdapat biografi dan beberapa foto yang diceritakan oleh pengarang sehingga
jelas siapa yang diceritakan oleh pengarang
C.
Kekurangan
Masih adanya kata-kata dari isi buku ini yang
sangat sulit untuk dipahami oleh masyarakat awam karena dilihat dari segi
pemaknaan dan fungsi buku ini diperuntukkan kepada semua kalangan terkhusus
kalangan masyarakat awam dan juga masih ada beberapa urutan-urutan tahun
kejadian yang tidak sistematis sehingga membutuhkan seseorang untuk membacanya
berulang-ulang karena urutan kejadiannya sulit untuk dipahami. Meskipun di buku
ini terdapat beberapa foto tokoh yang diceritakan oleh pengarang akan tetapi
masih sulit ditebak yang manakah tokoh tersebut karena difoto tersebut banyak
orang di dalamnya dan tidak adanya penjelasan secara mendetail oleh pengarang
tentang tokoh yang diceritakannya serta fotonya masih tergolong kategori jadul
karena masih memiliki warna hitam putih.
D.
Rangkuman
Buku ini menceritakan seorang tokoh pahlawan
revolusi yang perjuangannya jauh hari sebelum masyarakat Indonesia menuntut
“adili soeharto”, penolakan dwifungsi ABRI, pencabutan pancasila sebagai
satu-satunya asas, serta perlunya keberpihakan pada rakyat kecil. Partai Rakyat
Demokratik (PRD) telah mencetuskan dan mengklaim dirinya adalah “musuh orde
baru” karena partai ini merasa bahwa orde baru ini mempunyai banyak
penyelewengan-penyelewengan baik dikalangan pemerintahan itu sendiri maupun dikalangan
masyarakat.
Di dalam buku ini pengarang menceritakan tokoh
yang bernama Budiman Sujatmiko pendiri PRD. Akan tetapi pengarang tidak
langsung menceritakan aktivitas-aktivitas Budiman Sujatmiko selaku pendiri PRD
tetapi pengarang menceritakan bagaimana aktivitas kehidupan Budiman Sujatmiko
mulai dari ketika dia masih kecil hingga menutup usianya di penjara.
Kemudian buku ini mengungkap yang sebenarnya
“ditakuti” pemerintah Orde Baru dari PRD dan Budiman Sujatmiko. Catatn dan
rekaman kiprah Budiman menggerakkan massa dan keunggulan organisasi yang
dipimpinnya membuat pemerintah merasa pantas menjegal langkah beliau ketika
budiman menjadi ketua umum sebuah partai politik yang diusianya yang sangat
muda sekitar 26 tahun. Dan pada waktu itu sebuah partai yang dipimpinnya
bernama Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang diklaim oleh pemerintah sebagai
“musuh negara” tak lama setelah peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996. Harian Kompas
tanggal 31 Juli 1996 memuatnya sebagai berita utama dengan judul “Pemerintah
akan tindak pelaku kerusuhan 27 Juli” isinya antara lain :
Keberadaan PRD, yang dinilai aparat keamanan,
telah berada di belakang aksi kerusuhan salemba itu, menjadi topik utama baik
dalam jumpa pers usai Rakor Polkam maupun ketika berlangsung pertemuan antara
ormas-ormas dengan Kasospol ABRI Letjen TNI Syarwan Hamid atas undangan Dirjen
Sospol Depdagri Sutoyo NK di Depdagri.
PRD, kata Menko Polkam, jelas-jelas menunjukkan
kemiripan dengan PKI, terutama dari istilah-istilah yang digunakan dalam manifesto
politik mereka tertanggal 22 Juli 1996. (kompas, 31-7-1996)
Sejak saat itu, resmilah PRD dicap sebagai PKI
baru. Kemudian PRD dibawah kepimimpinannya yang dideklarasikan lima hari
sebelum peristiwa berdarah 27 Juli 1996 meletus Budiman tak mengira jika
letusan itu terjadi begitu cepat. Lalu untuk mengatasi kejadian tesebut aksi
solidaritas mahasiswa bersama Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY)
menyatukan berbagai kelompok mahasiswa yang ada di masing-masing kampus lalu
mendesak mendorong adanya semacam komite Advokasi untukk para petani yang
tergusur karena skala kasus dan akibat yang ditimbulkan oleh pembangunan
bendungan itu memang besar sehingga akhirnya kasus ini menjadi begitu populer
dan “legendaris”.
Budiman termasuk salah seorang yang memainkan
peran organisator sejak dimulainya proses pelatakan dasar-dasar pola perjuangan
ini. Pola interaksi ini intinya adalah melakukan proses penguatan posisi
politik rakyat dengan cara mengorganisir mereka, merancang format organnisasi
perjuangan kaum tani, melatih kemampuan untuk berkammpanye dan melakukan
tekanan terhadap pemerintah, dan akhirnya melahirkan kader-kader perjuangan
dari kalangan kaum tani itu sendiri.
Jalan parlementer bagi perubahan politik telah
ditutup rapat, tepat di pintu gerbangnya, yakni pada saat 27 juli 1996,
orang-orang dipukuli, diusir, dan dibunuh dijalan diponegoro 58, pada saat
orang-orang dikejar, diburu, dijebak, dan ditangkapi unutk kemudian diseret ke
pengadilan palsu ini untuk mendengarkan ocehan jaksa penunutut umum. Ocehan
yang dengan jumawa ditingkahi dengan kata “untuk keadilan”, keadilan menurut
selera, motif, prasangka, dan reka-reka para jaksa, tentunya ! ( pidato
pertanggungjawaban Politik PRD, hlm 71).
Munculnya mimbar bebas dihalaman kantor DPP-PDI
di Jl. Diponegoro 58, bagi budiman merupakan pencapaian yang luar biasa dalam
prestasi politik rakyat Indonesia untuk merebut ruang politiknya sendiri.
Suasan dan situasi yang tercipta dengan adanya mimbar bebas tersebut mampu
membangkitkan kegairahan politik disejumlah kota.
Lima hari setelah peristiwa 27 juli 1996, tak
lama setelah PRD dituduh sebagai pelaku atau dalang kerusuhan tersebut, Pangdam
Jaya, yang dijabat Mayjen Sutiyoso, memberikan perintah tembak ditempat
terhadap para perusuh. “perintah tembak ditempat telah diberikan kepada
mereka yang menganggu ketertiban sehingga merugikan orang banyak. Kita
mempunyai batas toleransi, “kata Sutiyoso (kompas, 31 juli 1996).
Perintah ini tentu saja menimbulkan kengerian
bagi siapa pun yang mendengarnya. Betapa mudahnya kematian. Begitu dekatnya
maut di Jakarta pada saat itu. Budiman dan kawan-kawannya juga membicarakan
dengan serius perintah maut yang dikeluarkan Pangdam Jaya itu.
Kemudian keputusan PRD untuk bergerak di bawah
tanah yang dikeluarkan pengurus pusat PRD, namun hal tersebut tidak dapat
mengatasi atas kejadian dan pencarian Budiman terhadap pemerintah orde baru.
Tak lama kemudian akhirnya pihak pemerintah menemukan tempat persembunyian
buduman beserta teman-temannya saat itu juga, dalam hitungan kurang dari satu
detik, pistol langsung ditempelkan di kening budiman. Selesailah sudah babak
pelarian dalam hidup budiman.
Biografi ini hanyalah mencatat sebagian kecil
perlawanan dan perjalanan aktivis mahasiswa yang “menolak tunduk” pada rezim
yang dinilainya zalim itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar