Sabtu, 01 November 2014

MENOLAK TUNDUK




A.  Identitas Buku
Judul buku                                           : Menolak Tunduk
Nama pengarang                                : Rudi Gunawan
Nama kota dan penerbit                     : Jakarta, PT Gramedia widisarana Indonesia
Tahun terbit dan jumlah halaman      : 1999, XVI + 160 halaman
B.    Kelebihan  
Buku ini memiliki kelebihan yang begitu menarik karena buku ini dapat membawa sang pembaca seakan-akan mengalami kejadian yang sama dengan buku ini dan buku ini mempunyai judul yang sangat menarik sehingga dengan melihat judulnya saja orang-orang akan tertarik untuk membacanya, tidak hanya sampai di situ sampul buku ini pun terlihat begitu eksklusif dengan perpaduan warnanya sehingga merangsang seseorang untuk memiliki buku ini. Selain memiliki judul yang menarik dan sampul yang kreatif, isi daripada buku ini juga mudah untuk dipahami di semua kalangan, baik itu kalangan pelajar, pemuda, mahasiswa, maupun dikalangan masyarakat karena buku ini memang diperuntukkan kepada masyarakat-masyarakat awam dan juga di dalam buku ini terdapat puisi-puisi penggugah semangat yang dimana puisi-puisi ini dibuat oleh seseorang yang diceritakan oleh pengarang serta di dalam buku ini terdapat biografi dan beberapa foto yang diceritakan oleh pengarang sehingga jelas siapa yang diceritakan oleh pengarang
C.   Kekurangan
Masih adanya kata-kata dari isi buku ini yang sangat sulit untuk dipahami oleh masyarakat awam karena dilihat dari segi pemaknaan dan fungsi buku ini diperuntukkan kepada semua kalangan terkhusus kalangan masyarakat awam dan juga masih ada beberapa urutan-urutan tahun kejadian yang tidak sistematis sehingga membutuhkan seseorang untuk membacanya berulang-ulang karena urutan kejadiannya sulit untuk dipahami. Meskipun di buku ini terdapat beberapa foto tokoh yang diceritakan oleh pengarang akan tetapi masih sulit ditebak yang manakah tokoh tersebut karena difoto tersebut banyak orang di dalamnya dan tidak adanya penjelasan secara mendetail oleh pengarang tentang tokoh yang diceritakannya serta fotonya masih tergolong kategori jadul karena masih memiliki warna hitam putih.
D.  Rangkuman
Buku ini menceritakan seorang tokoh pahlawan revolusi yang perjuangannya jauh hari sebelum masyarakat Indonesia menuntut “adili soeharto”, penolakan dwifungsi ABRI, pencabutan pancasila sebagai satu-satunya asas, serta perlunya keberpihakan pada rakyat kecil. Partai Rakyat Demokratik (PRD) telah mencetuskan dan mengklaim dirinya adalah “musuh orde baru” karena partai ini merasa bahwa orde baru ini mempunyai banyak penyelewengan-penyelewengan baik dikalangan pemerintahan itu sendiri maupun dikalangan masyarakat.
Di dalam buku ini pengarang menceritakan tokoh yang bernama Budiman Sujatmiko pendiri PRD. Akan tetapi pengarang tidak langsung menceritakan aktivitas-aktivitas Budiman Sujatmiko selaku pendiri PRD tetapi pengarang menceritakan bagaimana aktivitas kehidupan Budiman Sujatmiko mulai dari ketika dia masih kecil hingga menutup usianya di penjara.
Kemudian buku ini mengungkap yang sebenarnya “ditakuti” pemerintah Orde Baru dari PRD dan Budiman Sujatmiko. Catatn dan rekaman kiprah Budiman menggerakkan massa dan keunggulan organisasi yang dipimpinnya membuat pemerintah merasa pantas menjegal langkah beliau ketika budiman menjadi ketua umum sebuah partai politik yang diusianya yang sangat muda sekitar 26 tahun. Dan pada waktu itu sebuah partai yang dipimpinnya bernama Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang diklaim oleh pemerintah sebagai “musuh negara” tak lama setelah peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996. Harian Kompas tanggal 31 Juli 1996 memuatnya sebagai berita utama dengan judul “Pemerintah akan tindak pelaku kerusuhan 27 Juli” isinya antara lain :
Keberadaan PRD, yang dinilai aparat keamanan, telah berada di belakang aksi kerusuhan salemba itu, menjadi topik utama baik dalam jumpa pers usai Rakor Polkam maupun ketika berlangsung pertemuan antara ormas-ormas dengan Kasospol ABRI Letjen TNI Syarwan Hamid atas undangan Dirjen Sospol Depdagri Sutoyo NK di Depdagri.
PRD, kata Menko Polkam, jelas-jelas menunjukkan kemiripan dengan PKI, terutama dari istilah-istilah yang digunakan dalam manifesto politik mereka tertanggal 22 Juli 1996. (kompas, 31-7-1996)
Sejak saat itu, resmilah PRD dicap sebagai PKI baru. Kemudian PRD dibawah kepimimpinannya yang dideklarasikan lima hari sebelum peristiwa berdarah 27 Juli 1996 meletus Budiman tak mengira jika letusan itu terjadi begitu cepat. Lalu untuk mengatasi kejadian tesebut aksi solidaritas mahasiswa bersama Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) menyatukan berbagai kelompok mahasiswa yang ada di masing-masing kampus lalu mendesak mendorong adanya semacam komite Advokasi untukk para petani yang tergusur karena skala kasus dan akibat yang ditimbulkan oleh pembangunan bendungan itu memang besar sehingga akhirnya kasus ini menjadi begitu populer dan “legendaris”. 
Budiman termasuk salah seorang yang memainkan peran organisator sejak dimulainya proses pelatakan dasar-dasar pola perjuangan ini. Pola interaksi ini intinya adalah melakukan proses penguatan posisi politik rakyat dengan cara mengorganisir mereka, merancang format organnisasi perjuangan kaum tani, melatih kemampuan untuk berkammpanye dan melakukan tekanan terhadap pemerintah, dan akhirnya melahirkan kader-kader perjuangan dari kalangan kaum tani itu sendiri.
Jalan parlementer bagi perubahan politik telah ditutup rapat, tepat di pintu gerbangnya, yakni pada saat 27 juli 1996, orang-orang dipukuli, diusir, dan dibunuh dijalan diponegoro 58, pada saat orang-orang dikejar, diburu, dijebak, dan ditangkapi unutk kemudian diseret ke pengadilan palsu ini untuk mendengarkan ocehan jaksa penunutut umum. Ocehan yang dengan jumawa ditingkahi dengan kata “untuk keadilan”, keadilan menurut selera, motif, prasangka, dan reka-reka para jaksa, tentunya ! ( pidato pertanggungjawaban Politik PRD, hlm 71).
Munculnya mimbar bebas dihalaman kantor DPP-PDI di Jl. Diponegoro 58, bagi budiman merupakan pencapaian yang luar biasa dalam prestasi politik rakyat Indonesia untuk merebut ruang politiknya sendiri. Suasan dan situasi yang tercipta dengan adanya mimbar bebas tersebut mampu membangkitkan kegairahan politik disejumlah kota.
Lima hari setelah peristiwa 27 juli 1996, tak lama setelah PRD dituduh sebagai pelaku atau dalang kerusuhan tersebut, Pangdam Jaya, yang dijabat Mayjen Sutiyoso, memberikan perintah tembak ditempat terhadap para perusuh. “perintah tembak ditempat telah diberikan kepada mereka yang menganggu ketertiban sehingga merugikan orang banyak. Kita mempunyai batas toleransi, “kata Sutiyoso (kompas, 31 juli 1996).
Perintah ini tentu saja menimbulkan kengerian bagi siapa pun yang mendengarnya. Betapa mudahnya kematian. Begitu dekatnya maut di Jakarta pada saat itu. Budiman dan kawan-kawannya juga membicarakan dengan serius perintah maut yang dikeluarkan Pangdam Jaya itu.
Kemudian keputusan PRD untuk bergerak di bawah tanah yang dikeluarkan pengurus pusat PRD, namun hal tersebut tidak dapat mengatasi atas kejadian dan pencarian Budiman terhadap pemerintah orde baru. Tak lama kemudian akhirnya pihak pemerintah menemukan tempat persembunyian buduman beserta teman-temannya saat itu juga, dalam hitungan kurang dari satu detik, pistol langsung ditempelkan di kening budiman. Selesailah sudah babak pelarian dalam hidup budiman.
Biografi ini hanyalah mencatat sebagian kecil perlawanan dan perjalanan aktivis mahasiswa yang “menolak tunduk” pada rezim yang dinilainya zalim itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar