Rabu, 05 November 2014

BERFIKIR POSITIF

Antara Jalan dan Tujuan
Apakah berpikir positif itu jalan atau tujuan? Menggunakannya sebagai jalan berarti setelah kita berpikir positif masih ada proses positif yang perlu kita jalani sedangkan menggunakannya sebagai tujuan berarti kita cukup hanya sampai pada tahap menciptakan pikiran positif atas kenyataan buruk di tempat kerja, di sekolah, di kampus dan di mana-mana.
Memilih sebagai jalan atau tujuan, sebenarnya adalah hak kita. Tidak ada orang yang akan melaporkan kita ke polisi dengan memilih salah satunya. Tetapi kalau kita berbicara manfaat yang sedikit dan manfaat yang banyak maka barangkali sudah menjadi keharusan-pribadi untuk selalu mengingat bahwa berpikir positif itu adalah jalan yang kita bangun untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Logisnya bisa dijelaskan bahwa jika jalan yang kita pilih itu positif, maka perjalanan kita menuju terminal tujuan juga positif atau terhindar dari hambatan-hambatan negatif akibat dari kekeliruan kita dalam memilih jalan. Begitu ‘kan?
Hal ini agak berbeda sedikit dengan ketika kita memilihnya sebagai tujuan. Dibilang baik memang sudah baik dan dibilang untung memang sudah untung. Untung yang paling riil adalah mendapatkan suasana batin yang positif atau terhindar dari hal-hal buruk yang diakibatkan oleh pikiran negatif. Dale Carnegie menyimpulkan: “Ingatlah kebahagiaan tidak tergantung pada siapa dirimu dan apa yang kamu miliki tetapi tergantung pada apa yang kamu pikirkan.” Namun, suasana batin yang sepositif apapun tidak bisa mengaktualisasikan potensi sedikit meskipun kalau suasana batin kita keruh akibat pikiran negatif, maka usaha kita untuk mengaktualisasikan potensi itu dipastikan terhambat.
Rahasia Berpikir Positif
Dengan memiliki suasana batin positif, maka ini akan menjadi sangat kondusif (mendukung) untuk menjalankan proses positif berikutnya, yang antara lain:

1. Pelajaran
Pelajaran positif itu ada di mana-mana sepanjang kita mau menggali dan menyerapnya: di balik kesalahan, kegagalan, pengkhianatan orang lain atas kita, di balik musibah buruk yang menimpa kita dan seterusnya. Namun pelajaran positif itu tidak bisa kita serap kalau batin kita sudah keruh oleh pikiran-pikiran negatif.

2. Keputusan
Satu kenyataan buruk yang kita hadapi pada hakekatnya tidak mendekte kita harus mengambil keputusan tertentu tetapi menawarkan pilihan kepada kita. Nah, salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki untuk melahirkan keputusan yang tepat adalah memiliki batin yang kondusif dan positif, menghilangkan pikiran negatif. Yang menentukan nasib kita itu bukan apa yang menimpa kita melainkan keputusan yang kita ambil atas apa yang menimpa kita. Artinya, keputusan mundur akan menghasilkan kemunduran; keputusan mandek akan menghasilkan kemandekan dan keputusan maju akan menghasilkan kemajuan.

3. Keteraturan Langkah 
Apa yang menyebabkan langkah kita terkadang mudah diserang virus keputusasaan dan kepasrahan? Apa yang terkadang membuat kita mudah bongkar-pasang rencana hanya karena mood sesaat? Sebab-sebabnya tentu banyak tetapi salah satunya adalah pikiran negatif. Sekuat apapun fisik kita atau sekuat apapun keinginan kita untuk mewujudkan tujuan, biasanya akan tidak banyak membantu apabila pikiran ini sudah penuh dengan kotoran negatif.
Nah, dengan menciptakan pikiran positif atas hal-hal buruk yang menimpa kita setidak-tidaknya ini menjadi bekal buat kita untuk melakukan hal-hal positif secara terus-menerus dalam arti tidak mengandalkan perubahan keadaan atau tidak mudah disakiti oleh pukulan keadaan. Pikiran negatif yang kita bawa terkadang menjadi penghambat langkah kita atau mengganggu kelancaran langkah kita dalam menapaki tujuan yang sudah kita tetapkan.

Selasa, 04 November 2014

MANAJEMEN KONFLIK




Manajemen konflik
merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku maupun pihak luar dalam suatu konflik. Manajemen konflik termasuk pada suatu pendekatan yang berorientasi pada proses yang mengarahkan pada bentuk komunikasi (termasuk tingkah laku) dari pelaku maupun pihak luar dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan (interests) dan interpretasi. Bagi pihak luar (di luar yang berkonflik) sebagai pihak ketiga, yang diperlukannya adalah informasi yang akurat tentang situasi konflik. Hal ini karena komunikasi efektif di antara pelaku dapat terjadi jika ada kepercayaan terhadap pihak ketiga.
Menurut Ross (1993) bahwa manajemen konflik merupakan langkah-langkah yang diambil para pelaku atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir berupa penyelesaian konflik dan mungkin atau tidak mungkin menghasilkan ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat, atau agresif.
Peran manajemen konflik dalam organisasi
Para manajer bergantung kepada ketrampilan berkomunikasi mereka dalam memperoleh informasi yang diperlukan dalam proses perumusan keputusan, demikian pula untuk mensosialisasikan hasil keputusan tersebut kepada pihak-pihak lain. Riset membuktikan bahwa manajer menghabiskan waktu sebanyak 80 persen dari total waktu kerjanya untuk interaksi verbal dengan orang lain.

Ketrampilan memproses informasi yang dituntut dari seorang manajer termasuk kemampuan untuk mengirim dan menerima informasi ketika bertindak sebagai monitor, juru bicara (Spekesperson), maupun penyusun strategi.
Definisi konflik
Menurut Nardjana (1994) Konflik yaitu akibat situasi dimana keinginan atau kehendak yang berbeda atau berlawanan antara satu dengan yang lain, sehingga salah satu atau keduanya saling terganggu.
Menurut Killman dan Thomas (1978), konflik adalah kondisi terjadinya ketidakcocokan antar nilai atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain. Kondisi yang telah dikemukakan tersebut dapat mengganggu bahkan menghambat tercapainya emosi atau stres yang mempengaruhi efisiensi dan produktivitas kerja (Wijono,1993, p.4)
Tahapan-Tahapan Perkembangan kearah terjadinya Konflik :
1. Konflik masih tersembunyi (laten)
Berbagai macam kondisi emosional yang dirasakan sebagai hal yang biasa dan tidak dipersoalkan sebagai hal yang mengganggu dirinya.
2. Konflik yang mendahului (antecedent condition)
Tahap perubahan dari apa yang dirasakan secara tersembunyi yang belum mengganggu dirinya, kelompok atau organisasi secara keseluruhan, seperti timbulnya tujuan dan nilai yang berbeda, perbedaan peran dan sebagainya.
3. Konflik yang dapat diamati (perceived conflicts) dan konflik yang dapat dirasakan (felt conflict)
Muncul sebagai akibat antecedent condition yang tidak terselesaikan.
4. Konflik terlihat secara terwujud dalam perilaku (manifest behavior)
Upaya untuk mengantisipasi timbulnya konflik dan sebab serta akibat yang ditimbulkannya; individu, kelompok atau organisasi cenderung melakukan berbagai mekanisme pertahanan diri melalui perilaku.
5. Penyelesaian atau tekanan konflik
Pada tahap ini, ada dua tindakan yang perlu diambil terhadap suatu konflik, yaitu penyelesaian konflik dengan berbagai strategi atau sebaliknya malah ditekan.
6. Akibat penyelesaian konflik
Jika konflik diselesaikan dengan efektif dengan strategi yang tepat maka dapat memberikan kepuasan dan dampak positif bagi semua pihak. Sebaliknya bila tidak, maka bisa berdampak negatif terhadap kedua belah pihak sehingga mempengaruhi produkivitas kerja.(Wijono, 1993, 38-41).
Strategi mengatasi konflik
Menurut Stevenin (2000, pp.134-135), terdapat lima langkah meraih kedamaian dalam konflik. Apa pun sumber masalahnya, lima langkah berikut ini bersifat mendasar dalam mengatasi kesulitan:
1. Pengenalan
Kesenjangan antara keadaan yang ada diidentifikasi dan bagaimana keadaan yang seharusnya. Satu-satunya yang menjadi perangkap adalah kesalahan dalam mendeteksi (tidak mempedulikan masalah atau menganggap ada masalah padahal sebenarnya tidak ada).
2. Diagnosis
Inilah langkah yang terpenting. Metode yang benar dan telah diuji mengenai siapa, apa, mengapa, dimana, dan bagaimana berhasil dengan sempurna. Pusatkan perhatian pada masalah utama dan bukan pada hal-hal sepele.
3. Menyepakati suatu solusi
Kumpulkanlah masukan mengenai jalan keluar yang memungkinkan dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Saringlah penyelesaian yang tidak dapat diterapkan atau tidak praktis. Jangan sekali-kali menyelesaikan dengan cara yang tidak terlalu baik. Carilah yang terbaik.
4. Pelaksanaan
Ingatlah bahwa akan selalu ada keuntungan dan kerugian. Hati-hati, jangan biarkan pertimbangan ini terlalu mempengaruhi pilihan dan arah kelompok.
5. Evaluasi
Penyelesaian itu sendiri dapat melahirkan serangkaian masalah baru. Jika penyelesaiannya tampak tidak berhasil, kembalilah ke langkah-langkah sebelumnya dan cobalah lagi.

Stevenin (1993 : 139-141) juga memaparkan bahwa ketika mengalami konflik, ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan di tengah-tengah konflik, yaitu:
1. Jangan hanyut dalam perebutan kekuasaan dengan orang lain. Ada pepatah dalam masyarakat yang tidak dapat dipungkiri, bunyinya: bila wewenang bertambah maka kekuasaan pun berkurang, demikian pula sebaiknya.
2. Jangan terlalu terpisah dari konflik. Dinamika dan hasil konflik dapat ditangani secara paling baik dari dalam, tanpa melibatkan pihak ketiga.
3. Jangan biarkan visi dibangun oleh konflik yang ada. Jagalah cara pandang dengan berkonsentrasi pada masalah-masalah penting. Masalah yang paling mendesak belum tentu merupakan kesempatan yang terbesar.

Sabtu, 01 November 2014

MENOLAK TUNDUK




A.  Identitas Buku
Judul buku                                           : Menolak Tunduk
Nama pengarang                                : Rudi Gunawan
Nama kota dan penerbit                     : Jakarta, PT Gramedia widisarana Indonesia
Tahun terbit dan jumlah halaman      : 1999, XVI + 160 halaman
B.    Kelebihan  
Buku ini memiliki kelebihan yang begitu menarik karena buku ini dapat membawa sang pembaca seakan-akan mengalami kejadian yang sama dengan buku ini dan buku ini mempunyai judul yang sangat menarik sehingga dengan melihat judulnya saja orang-orang akan tertarik untuk membacanya, tidak hanya sampai di situ sampul buku ini pun terlihat begitu eksklusif dengan perpaduan warnanya sehingga merangsang seseorang untuk memiliki buku ini. Selain memiliki judul yang menarik dan sampul yang kreatif, isi daripada buku ini juga mudah untuk dipahami di semua kalangan, baik itu kalangan pelajar, pemuda, mahasiswa, maupun dikalangan masyarakat karena buku ini memang diperuntukkan kepada masyarakat-masyarakat awam dan juga di dalam buku ini terdapat puisi-puisi penggugah semangat yang dimana puisi-puisi ini dibuat oleh seseorang yang diceritakan oleh pengarang serta di dalam buku ini terdapat biografi dan beberapa foto yang diceritakan oleh pengarang sehingga jelas siapa yang diceritakan oleh pengarang
C.   Kekurangan
Masih adanya kata-kata dari isi buku ini yang sangat sulit untuk dipahami oleh masyarakat awam karena dilihat dari segi pemaknaan dan fungsi buku ini diperuntukkan kepada semua kalangan terkhusus kalangan masyarakat awam dan juga masih ada beberapa urutan-urutan tahun kejadian yang tidak sistematis sehingga membutuhkan seseorang untuk membacanya berulang-ulang karena urutan kejadiannya sulit untuk dipahami. Meskipun di buku ini terdapat beberapa foto tokoh yang diceritakan oleh pengarang akan tetapi masih sulit ditebak yang manakah tokoh tersebut karena difoto tersebut banyak orang di dalamnya dan tidak adanya penjelasan secara mendetail oleh pengarang tentang tokoh yang diceritakannya serta fotonya masih tergolong kategori jadul karena masih memiliki warna hitam putih.
D.  Rangkuman
Buku ini menceritakan seorang tokoh pahlawan revolusi yang perjuangannya jauh hari sebelum masyarakat Indonesia menuntut “adili soeharto”, penolakan dwifungsi ABRI, pencabutan pancasila sebagai satu-satunya asas, serta perlunya keberpihakan pada rakyat kecil. Partai Rakyat Demokratik (PRD) telah mencetuskan dan mengklaim dirinya adalah “musuh orde baru” karena partai ini merasa bahwa orde baru ini mempunyai banyak penyelewengan-penyelewengan baik dikalangan pemerintahan itu sendiri maupun dikalangan masyarakat.
Di dalam buku ini pengarang menceritakan tokoh yang bernama Budiman Sujatmiko pendiri PRD. Akan tetapi pengarang tidak langsung menceritakan aktivitas-aktivitas Budiman Sujatmiko selaku pendiri PRD tetapi pengarang menceritakan bagaimana aktivitas kehidupan Budiman Sujatmiko mulai dari ketika dia masih kecil hingga menutup usianya di penjara.
Kemudian buku ini mengungkap yang sebenarnya “ditakuti” pemerintah Orde Baru dari PRD dan Budiman Sujatmiko. Catatn dan rekaman kiprah Budiman menggerakkan massa dan keunggulan organisasi yang dipimpinnya membuat pemerintah merasa pantas menjegal langkah beliau ketika budiman menjadi ketua umum sebuah partai politik yang diusianya yang sangat muda sekitar 26 tahun. Dan pada waktu itu sebuah partai yang dipimpinnya bernama Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang diklaim oleh pemerintah sebagai “musuh negara” tak lama setelah peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996. Harian Kompas tanggal 31 Juli 1996 memuatnya sebagai berita utama dengan judul “Pemerintah akan tindak pelaku kerusuhan 27 Juli” isinya antara lain :
Keberadaan PRD, yang dinilai aparat keamanan, telah berada di belakang aksi kerusuhan salemba itu, menjadi topik utama baik dalam jumpa pers usai Rakor Polkam maupun ketika berlangsung pertemuan antara ormas-ormas dengan Kasospol ABRI Letjen TNI Syarwan Hamid atas undangan Dirjen Sospol Depdagri Sutoyo NK di Depdagri.
PRD, kata Menko Polkam, jelas-jelas menunjukkan kemiripan dengan PKI, terutama dari istilah-istilah yang digunakan dalam manifesto politik mereka tertanggal 22 Juli 1996. (kompas, 31-7-1996)
Sejak saat itu, resmilah PRD dicap sebagai PKI baru. Kemudian PRD dibawah kepimimpinannya yang dideklarasikan lima hari sebelum peristiwa berdarah 27 Juli 1996 meletus Budiman tak mengira jika letusan itu terjadi begitu cepat. Lalu untuk mengatasi kejadian tesebut aksi solidaritas mahasiswa bersama Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) menyatukan berbagai kelompok mahasiswa yang ada di masing-masing kampus lalu mendesak mendorong adanya semacam komite Advokasi untukk para petani yang tergusur karena skala kasus dan akibat yang ditimbulkan oleh pembangunan bendungan itu memang besar sehingga akhirnya kasus ini menjadi begitu populer dan “legendaris”. 
Budiman termasuk salah seorang yang memainkan peran organisator sejak dimulainya proses pelatakan dasar-dasar pola perjuangan ini. Pola interaksi ini intinya adalah melakukan proses penguatan posisi politik rakyat dengan cara mengorganisir mereka, merancang format organnisasi perjuangan kaum tani, melatih kemampuan untuk berkammpanye dan melakukan tekanan terhadap pemerintah, dan akhirnya melahirkan kader-kader perjuangan dari kalangan kaum tani itu sendiri.
Jalan parlementer bagi perubahan politik telah ditutup rapat, tepat di pintu gerbangnya, yakni pada saat 27 juli 1996, orang-orang dipukuli, diusir, dan dibunuh dijalan diponegoro 58, pada saat orang-orang dikejar, diburu, dijebak, dan ditangkapi unutk kemudian diseret ke pengadilan palsu ini untuk mendengarkan ocehan jaksa penunutut umum. Ocehan yang dengan jumawa ditingkahi dengan kata “untuk keadilan”, keadilan menurut selera, motif, prasangka, dan reka-reka para jaksa, tentunya ! ( pidato pertanggungjawaban Politik PRD, hlm 71).
Munculnya mimbar bebas dihalaman kantor DPP-PDI di Jl. Diponegoro 58, bagi budiman merupakan pencapaian yang luar biasa dalam prestasi politik rakyat Indonesia untuk merebut ruang politiknya sendiri. Suasan dan situasi yang tercipta dengan adanya mimbar bebas tersebut mampu membangkitkan kegairahan politik disejumlah kota.
Lima hari setelah peristiwa 27 juli 1996, tak lama setelah PRD dituduh sebagai pelaku atau dalang kerusuhan tersebut, Pangdam Jaya, yang dijabat Mayjen Sutiyoso, memberikan perintah tembak ditempat terhadap para perusuh. “perintah tembak ditempat telah diberikan kepada mereka yang menganggu ketertiban sehingga merugikan orang banyak. Kita mempunyai batas toleransi, “kata Sutiyoso (kompas, 31 juli 1996).
Perintah ini tentu saja menimbulkan kengerian bagi siapa pun yang mendengarnya. Betapa mudahnya kematian. Begitu dekatnya maut di Jakarta pada saat itu. Budiman dan kawan-kawannya juga membicarakan dengan serius perintah maut yang dikeluarkan Pangdam Jaya itu.
Kemudian keputusan PRD untuk bergerak di bawah tanah yang dikeluarkan pengurus pusat PRD, namun hal tersebut tidak dapat mengatasi atas kejadian dan pencarian Budiman terhadap pemerintah orde baru. Tak lama kemudian akhirnya pihak pemerintah menemukan tempat persembunyian buduman beserta teman-temannya saat itu juga, dalam hitungan kurang dari satu detik, pistol langsung ditempelkan di kening budiman. Selesailah sudah babak pelarian dalam hidup budiman.
Biografi ini hanyalah mencatat sebagian kecil perlawanan dan perjalanan aktivis mahasiswa yang “menolak tunduk” pada rezim yang dinilainya zalim itu.