Antara Jalan
dan Tujuan
Apakah berpikir
positif itu jalan atau tujuan? Menggunakannya sebagai jalan berarti setelah
kita berpikir positif masih ada proses positif yang perlu kita jalani sedangkan
menggunakannya sebagai tujuan berarti kita cukup hanya sampai pada tahap
menciptakan pikiran positif atas kenyataan buruk di tempat kerja, di sekolah,
di kampus dan di mana-mana.
Memilih sebagai
jalan atau tujuan, sebenarnya adalah hak kita. Tidak ada orang yang akan
melaporkan kita ke polisi dengan memilih salah satunya. Tetapi kalau kita
berbicara manfaat yang sedikit dan manfaat yang banyak maka barangkali sudah
menjadi keharusan-pribadi untuk selalu mengingat bahwa berpikir positif itu
adalah jalan yang kita bangun untuk mencapai tujuan yang kita inginkan.
Logisnya bisa dijelaskan bahwa jika jalan yang kita pilih itu positif, maka
perjalanan kita menuju terminal tujuan juga positif atau terhindar dari
hambatan-hambatan negatif akibat dari kekeliruan kita dalam memilih jalan.
Begitu ‘kan?
Hal ini agak
berbeda sedikit dengan ketika kita memilihnya sebagai tujuan. Dibilang baik
memang sudah baik dan dibilang untung memang sudah untung. Untung yang paling
riil adalah mendapatkan suasana batin yang positif atau terhindar dari hal-hal
buruk yang diakibatkan oleh pikiran negatif. Dale Carnegie menyimpulkan: “Ingatlah kebahagiaan tidak tergantung
pada siapa dirimu dan apa yang kamu miliki tetapi tergantung pada apa yang kamu
pikirkan.” Namun, suasana batin yang sepositif apapun tidak bisa mengaktualisasikan
potensi sedikit meskipun kalau suasana batin kita keruh akibat pikiran negatif,
maka usaha kita untuk mengaktualisasikan potensi itu dipastikan terhambat.
Rahasia
Berpikir Positif
Dengan memiliki
suasana batin positif, maka ini akan menjadi sangat kondusif (mendukung) untuk
menjalankan proses positif berikutnya, yang antara lain:
1. Pelajaran
Pelajaran positif
itu ada di mana-mana sepanjang kita mau menggali dan menyerapnya: di balik
kesalahan, kegagalan, pengkhianatan orang lain atas kita, di balik musibah
buruk yang menimpa kita dan seterusnya. Namun pelajaran positif itu tidak bisa
kita serap kalau batin kita sudah keruh oleh pikiran-pikiran negatif.
2. Keputusan
Satu kenyataan buruk yang kita hadapi pada hakekatnya
tidak mendekte kita harus mengambil keputusan tertentu tetapi menawarkan
pilihan kepada kita. Nah, salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki untuk
melahirkan keputusan yang tepat adalah memiliki batin yang kondusif dan positif,
menghilangkan pikiran negatif. Yang menentukan nasib kita itu bukan apa yang
menimpa kita melainkan keputusan yang kita ambil atas apa yang menimpa kita.
Artinya, keputusan mundur akan menghasilkan kemunduran; keputusan mandek akan
menghasilkan kemandekan dan keputusan maju akan menghasilkan kemajuan.
3. Keteraturan
Langkah
Apa yang
menyebabkan langkah kita terkadang mudah diserang virus keputusasaan dan
kepasrahan? Apa yang terkadang membuat kita mudah bongkar-pasang rencana hanya
karena mood sesaat? Sebab-sebabnya tentu banyak tetapi salah satunya adalah
pikiran negatif. Sekuat apapun fisik kita atau sekuat apapun keinginan kita
untuk mewujudkan tujuan, biasanya akan tidak banyak membantu apabila pikiran
ini sudah penuh dengan kotoran negatif.
Nah, dengan menciptakan pikiran positif atas hal-hal
buruk yang menimpa kita setidak-tidaknya ini menjadi bekal buat kita untuk
melakukan hal-hal positif secara terus-menerus dalam arti tidak mengandalkan
perubahan keadaan atau tidak mudah disakiti oleh pukulan keadaan. Pikiran negatif
yang kita bawa terkadang menjadi penghambat langkah kita atau mengganggu
kelancaran langkah kita dalam menapaki tujuan yang sudah kita tetapkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar